Geger! Abu Nawas Menjual Sultan di Pasar Budak, Kok Bisa?
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Sahabat Tawa Abu Nawas yang selalu ceria!
Apa kabarnya hari ini? Kami berharap tawa dan kebahagiaan selalu menyelimuti hari-hari Anda. Senang sekali rasanya bisa kembali hadir di ruang baca Anda untuk membagikan kisah yang mungkin terdengar "keterlaluan" namun sangat menghibur. Pernahkah Anda membayangkan seseorang memiliki keberanian untuk menjual rajanya sendiri di pasar budak? Terdengar mustahil, bukan? Tapi bagi Abu Nawas, tidak ada yang mustahil. Mari kita simak kisahnya sambil bersantai sejenak!
Perintah Sultan yang Nyeleneh
Kisah ini bermula ketika Sultan Harun Al-Rasyid sedang ingin menguji kesabaran dan kecerdikan Abu Nawas (lagi). Suatu pagi, Sultan memanggil Abu Nawas ke istana dan memberikan sebuah perintah yang sangat aneh.
"Wahai Abu Nawas," ujar Sultan dengan wajah serius yang dibuat-buat, "Aku ingin tahu seberapa tinggi nilai diriku jika aku dipandang sebagai manusia biasa, bukan sebagai seorang raja. Maka, perintahku hari ini adalah: bawalah aku ke pasar budak dan juallah aku di sana! Aku ingin tahu berapa harga yang pantas untuk seorang Harun Al-Rasyid."
Abu Nawas sempat tertegun. Ia tahu ini adalah jebakan. Jika ia menjual Sultan dengan harga murah, Sultan bisa tersinggung. Jika ia tidak bisa menjualnya, ia dianggap gagal melaksanakan perintah. Namun, bukan Abu Nawas namanya jika tidak memiliki akal bulus yang brilian.
Menuju Pasar Budak
Keesokan harinya, Sultan Harun Al-Rasyid menyamar menggunakan pakaian rakyat jelata yang sangat sederhana, bahkan cenderung kusam. Abu Nawas membawanya ke pasar budak pusat kota. Sultan tampak sangat bersemangat, ingin melihat reaksi orang-orang terhadap dirinya.
Sesampainya di sana, Abu Nawas naik ke atas panggung pelelangan. Ia berteriak dengan lantang, "Wahai bapak-bapak, ibu-ibu, dan para juragan sekalian! Hari ini saya membawa seorang budak yang sangat istimewa. Lihatlah fisiknya yang kuat, meskipun wajahnya tampak sedikit kebingungan!"
Orang-orang mulai berkerumun. Sultan berdiri mematung, berusaha terlihat seperti budak yang patuh. Seorang saudagar kaya mendekat dan bertanya, "Hei Abu Nawas, apa kelebihan budak tua ini? Apakah dia bisa memacul sawah?"
Abu Nawas menjawab, "Oh, dia tidak bisa memacul, Tuan. Tapi dia sangat ahli dalam memerintah orang lain!" Penonton tertawa, menganggap Abu Nawas sedang melucu.
Harga Sebuah Kejujuran
Pelelangan pun dimulai. Seorang penawar berteriak, "100 dinar!" Sultan tersenyum bangga, merasa dirinya cukup berharga.
Kemudian penawar lain berteriak, "200 dinar!" Sultan semakin membusungkan dada. Namun, Abu Nawas tiba-tiba menghentikan pelelangan tersebut.
"Tunggu dulu, para hadirin!" teriak Abu Nawas. "Jangan terburu-buru menawar. Saya harus jujur tentang kekurangan budak ini. Meskipun dia tampak gagah, budak ini punya kebiasaan buruk: dia suka sekali menyuruh-nyuruh orang meskipun dia sendiri tidak tahu apa yang dia suruh. Dia juga sangat boros dan suka makan enak tanpa mau bekerja keras!"
Mendengar itu, para penawar langsung bubar. Mereka tidak mau membeli budak yang hanya menjadi beban. Akhirnya, hanya tersisa satu orang kakek tua yang kasihan melihat Sultan. Kakek itu berkata, "Abu Nawas, aku hanya punya 1 keping perak. Bolehkah aku membeli budak ini untuk membantuku menjaga ternak?"
Abu Nawas menoleh ke arah Sultan yang wajahnya sudah merah padam karena menahan marah. "Bagaimana Baginda? Eh, maksud saya, bagaimana wahai budakku? Apakah kau setuju dijual dengan harga 1 keping perak?"
Logika Sang Sufi
Sultan Harun Al-Rasyid tidak tahan lagi. Ia segera menarik Abu Nawas menjauh dari kerumunan. "Cukup Abu Nawas! Mengapa kau menghancurkan hargaku? Kenapa kau ceritakan semua keburukanku sehingga tidak ada yang mau membeliku kecuali kakek tua itu dengan harga yang sangat rendah?"
Abu Nawas tersenyum dengan sangat tulus dan berkata, "Baginda yang mulia, bukankah Baginda ingin tahu berapa nilai diri Baginda sebagai manusia biasa di mata rakyat? Di pasar ini, orang tidak membayar untuk mahkota atau kekuasaan, melainkan untuk manfaat yang bisa diberikan. Tanpa jabatan Sultan, ternyata harga Baginda di mata pasar hanyalah 1 keping perak karena Baginda tidak memiliki keterampilan kasar seperti budak lainnya."
Sultan terdiam seribu bahasa. Kalimat Abu Nawas adalah sebuah tamparan sekaligus pelajaran yang sangat dalam tentang kerendahhatian. Sultan menyadari bahwa kekuasaan hanyalah titipan, dan di hadapan Allah serta hukum alam manusia, nilai seseorang ditentukan oleh manfaatnya bagi sesama, bukan oleh simbol kekayaan.
Hikmah untuk Kita Semua
Sahabat Tawa Abu Nawas, cerita kocak ini membawa pesan yang sangat serius bagi kita:
Jabatan Adalah Amanah: Jangan sombong dengan jabatan atau gelar, karena jika semua itu dilepas, kita hanyalah manusia biasa yang lemah.
Pentingnya Keterampilan: Milikilah manfaat bagi orang lain. Nilai kita ditentukan oleh seberapa besar kontribusi kita bagi lingkungan sekitar.
Keberanian Berkata Benar: Abu Nawas mengajarkan kita untuk tetap jujur bahkan kepada penguasa, asalkan disampaikan dengan cara yang tepat (dan terkadang lucu).
Itulah kisah geger Abu Nawas menjual rajanya. Sultan pun akhirnya pulang ke istana dengan perasaan malu sekaligus kagum, dan tentu saja Abu Nawas selamat dari hukuman karena ia hanya menjalankan perintah Sultan dengan jujur.
Terima kasih telah menyimak kisah hari ini. Semoga menghibur dan menjadi bahan renungan kita sebelum beristirahat. Sampai jumpa di kisah seru besok!
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Meta Description : Kisah lucu Abu Nawas menjual Sultan Harun Al-Rasyid di pasar budak! Simak trik cerdik dan pesan moral tentang kerendahhatian yang bikin Sultan insaf.
Keywords: Abu Nawas Menjual Sultan, Kisah Lucu Abu Nawas, Humor Sufi, Cerita Abu Nawas dan Sultan, Tawa Abu Nawas, Hikmah Abu Nawas, Cerita Viral Abu Nawas.

Komentar
Posting Komentar